
DIA YANG
Cahaya menyelip di antara retakan genting yang memercikkan embun kecil di sela hujan sore ini.
Aku mengulum ludahku sesaat engkau hadir dalam benaku.
Aku memurung akan ketidak pastian egomu yang berjibaku, aku belajar denganmu.
Diam tenang resapi setiap gradasi yang terburai, ini hanya pola peribadatan semata.
Ku tatap dalam-dalam lagi retakan itu, aku menemukan mendung yang meludah ludah tak beraturan.
Sedikit sedikit pikiranku mulai lusuh, padam, geram.
Ku tatap dalam-dalam lagi retakan itu, aku menemukan langit biru yang tak bertitik temu aku bangkit.
Aku hanya rindu, tapi rinduku mencercaku dengan egoku.. aku mengigau hidup dalam bulatan, aku tak tahu untuk kemana.
Aku hanya tahu bagaimana memotong kompas... yaa, aku tahu untuk aku kemana aku harus potong kompas.... kucembungkan tatapanku pada retakan itu, aku melihat jelas percikan embun di alas genting dengan cahaya yang menelusup.
Tergambar jelas beberapa warna yang membentuk seperempat lingkaran.
Aku senang, itu alasanya kenapa aku sedemikian.
Sebab inilah warna.
Dan mendung hanya menjadi pelari semata. . . Aku merindukan yang hanya satu.
Bogor, 18 April 2015. (14:37 WIB)


0 komentar:
Posting Komentar