HIM

by 06.28 0 komentar



DIA YANG

Cahaya menyelip di antara retakan genting yang memercikkan embun kecil di sela hujan sore ini. 
Aku mengulum ludahku sesaat engkau hadir dalam benaku. 
Aku memurung akan ketidak pastian egomu yang berjibaku, aku belajar denganmu. 
Diam tenang resapi setiap gradasi yang terburai, ini hanya pola peribadatan semata. 
Ku tatap dalam-dalam lagi retakan itu, aku menemukan mendung yang  meludah ludah tak beraturan. 
Sedikit sedikit pikiranku mulai lusuh, padam, geram. 
Ku tatap dalam-dalam lagi  retakan  itu, aku menemukan langit biru yang tak bertitik temu aku bangkit. 
Aku hanya  rindu, tapi rinduku mencercaku dengan egoku.. aku  mengigau hidup dalam bulatan, aku tak tahu untuk kemana. 
Aku hanya tahu bagaimana memotong kompas... yaa, aku tahu untuk aku kemana aku harus potong kompas.... kucembungkan tatapanku pada  retakan itu, aku melihat  jelas percikan embun di alas genting dengan cahaya yang menelusup. 
Tergambar jelas beberapa warna yang membentuk seperempat lingkaran. 
Aku senang, itu alasanya kenapa aku sedemikian. 
Sebab inilah warna. 
Dan mendung hanya menjadi pelari semata. . . Aku merindukan yang hanya satu.

Bogor, 18 April 2015. (14:37 WIB)

Renny Widia

Developer

Cras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.

0 komentar:

Posting Komentar